Pidato Pertama Utsman bin Affan Sebagai Khalifah

  • Post published:
  • Post category:Tokoh

Pidato para sahabat Rasulullah SAW biasanya memang banyak mengandung hikmah dan pedoman. Para sahabat terutama yang diangkat menjadi khalifah bagi umat muslim juga selalu mengawali kepemimpinannya dengan pidato yang menggugah salah satunya sahabat Utsman bin Affan.

Utsman bin Affan adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang memiliki keutamaan. Beliau termasuk salah satu Khulafa’ Rasyidin yang menggantikan para sahabat sebelumnya setelah Rasulullah SAW wafat untuk memimpin umat muslim. Lantas, apa peristiwa menarik yang bisa kita contoh dalam hidup Utsman bin Affan?

Kehidupan Utsman bin Affan

Usman bin Affan lahir pada 574 Masehi dari golongan Bani Umayyah. Nama ibunya adalah Arwa binti Kuriz bin Rabiah. Ayahnya, Affan, meninggal di usia muda saat bepergian ke luar negeri, meninggalkan Utsman dengan warisan besar. Ia menjadi pedagang seperti ayahnya, dan bisnisnya berkembang, membuatnya menjadi salah satu orang terkaya di antara orang Quraiys.

Kaligrafi Tulisan Utsman bin Affan, sumber Okezone
Kaligrafi Tulisan Utsman bin Affan, sumber Okezone

Utsman terlahir di Ta’if. Ia tercatat sebagai salah satu dari 22 orang Mekah yang tahu cara menulis. Ayahnya yang bernama Affan bin Abi al-‘As, dari suku bani Umayyah dan ibunya yang bernama Arwa binti Kurayz, dari Abdshams, keduanya merupakan suku kaya dan terpandang Quraish di Mekah.

Sekembalinya dari perjalanan bisnis ke Suriah pada tahun 611, Utsman mengetahui tentang misi yang dinyatakan Nabi Muhammad. Setelah berdiskusi dengan temannya, Abu Bakar, Utsman memutuskan untuk masuk Islam dan Abu Bakar membawanya kepada Nabi Muhammad untuk menyatakan imannya.

Utsman menjadi salah satu orang yang paling awal masuk Islam, mengikuti Ali, Zaid, Abu Bakar dan beberapa lainnya. Masuknya ia ke dalam agama Islam membuat marah sukunya, Bani Ummayyah, yang sangat menentang ajaran Nabi Muhammad.

Sebagai seorang sahabat Rasulullah SAW, Utsman bin Affan memiliki sifat-sifat yang menjadi keunggulannya di tengah manusia. Salah satu yang paling dikenal adalah, Utsman bin Affan termasuk sahabat Nabi Muhammad yang paling dermawan. Selama perjalanan dakwah Rasulullah SAW hingga tegaknya Islam, Beliau banyak menyumbangkan hartanya.

Utsman bin Affan memang terlahir sebagai saudagar termasuk yang paling kaya di Mekkah pada waktu itu. Namun kekayaannya tidak malah membuatnya merasa sombong. Sebaliknya Beliau mau menerima Islam bahkan di masa-masa awal, dimana belum banyak orang masuk Islam dan mempercayainya.

Pada saat Perang Dzatirriqa dan Perang Ghatfahan berkecamuk, dimana Rasullullah memimpin perang, Utsman dipercaya menjabat wali kota Madinah. Saat Perang Tabuk, Utsman mendermakan 950 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya perang tersebut.

Ilustrasi Kedermawanan, sumber Sriwijaya Post
Ilustrasi Kedermawanan, sumber Sriwijaya Post

Utsman bin Affan juga menunjukkan kedermawanannya tatkala membeli mata air yang bernama Rumah dari seorang lelaki suku Ghifar seharga 35.000 dirham. Mata air itu ia wakafkan untuk kepentingan rakyat umum. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.

Menjadi Khalifah

Setelah wafatnya Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua, diadakanlah musyawarah untuk memilih khalifah selanjutnya. Ada enam orang kandidat khalifah yang diusulkan yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sa`ad bin Abi Waqqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah.

Selanjutnya Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah mengundurkan diri hingga hanya Utsman dan Ali yang tertinggal. Suara masyarakat pada saat itu cenderung memilih Utsman menjadi khalifah ketiga.

Maka diangkatlah Utsman yang berumur 70 tahun menjadi khalifah ketiga dan yang tertua, serta yang pertama dipilih dari beberapa calon. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram 23 H. Utsman menjadi khalifah di saat pemerintah Islam telah betul-betul mapan dan terstruktur.

Wakaf Utsman bin Affan, sumber PWMU
Wakaf Utsman bin Affan, sumber PWMU

Sepeninggal Umar bin Khattab, Utsman bin Affan menggantikannya sebagai khalifah pada saat usianya sudah menginjak sekitar 64 atau 65 tahun, menjadikannya sebagai salah satu khalifah tertua saat berkuasa. Berbeda dengan Umar yang memusatkan segala urusan negara dalam kendali kuat khalifah, Utsman cenderung memberikan hak otonomi yang lebih longgar pada bawahannya.

Hal ini menjadikan perluasan wilayah kekhalifahan dapat dilangsungkan secara lebih mandiri, sehingga dapat mencapai wilayah yang lebih jauh. Pada masanya, kekhalifahan sudah mencapai Khurasan Raya (kawasan Asia Tengah) di batas timur. Di masanya, masyarakat Muslim dan non-Muslim menjadi lebih makmur dalam masalah ekonomi dan menikmati kebebasan yang lebih besar di bidang politik.

Ia adalah khalifah kali pertama yang melakukan perluasan Masjid al-Haram Mekkah dan Masjid Nabawi Madinah karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Ia mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid.

Selain itu Beliau juga membangun pertanian, menaklukan beberapa daerah kecil yang berada disekitar perbatasan seperti Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat. Jasanya yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf.

Pidato Utsman bin Affan

Saat terpilih menjadi Khalifah pengganti Umar bin Khattab, Utsman bin Affan memberikan pidato pertamanya di hadapan umat muslim. Biasanya pidato di saat awal memegang amanah ini dapat memberikan pelajaran tentang kepemimpinan serta gambaran bagaimana seorang Khalifah menjalankan amanahnya.

Berikut petikannya, “ Wahai Sekalian manusia, takutlah kepada Allah, karena takut kepada Allah adalah karunia. Sesungguhnya orang yang paling bijaksana adalah mereka yang menghisab dirinya dan beramal bagi kehidupan sesudah mati serta mencari cahaya bagi kuburnya dari cahaya Allah. Hendaklah seorang hamba merasa takut akan di bangkitkan Allah dalam keadaan buta sedangkan tadinya dia bisa melihat.”

Semoga ulasan ini dapat bermanfaat dan menjadi pelajaran bagi kita semua. Untuk Anda yang ingin melihat berbagai produk podium minimalis, silahkan lihat harga podium minimalis di halaman website ini. Terima kasih.

Leave a Reply