Pidato Umar bin Khattab yang Inspiratif dan Menyentuh

  • Post published:
  • Post category:Tokoh

Pidato Umar bin Khattab saat menjadi khalifah ke-2 menggantikan Abu Bakar RA bisa dikatakan sebagai salah satu momen fenomenal dan dapat menjadi contoh bagi umat muslim. Beliau menyampaikan perihal yang menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya serta memberikan jaminan kepada umat muslim atas kepemimpinannya. Apa isi pidatonya?

Bagi umat muslim, Umar bin Khattab termasuk salah seorang yang terbaik yang pernah hidup bersama Rasulullah SAW dan menjadi pembela Islam. Meskipun awal masa hidupnya Beliau menjadi musuh, namun ternyata ada hikmah yang akhirnya membuat kita memahami bahwa cahaya Islam dapat menembus hati-hati yang keras sekalipun. Nah, menarik untuk mengulas bagaimana kehidupan Shahabat Rasulullah SAW yang satu ini.

Kehidupan Umar bin Khattab

Sebelum membahas pidato Umar bin Khattab saat menjadi khalifah, mari kita mengenal sosok Shahabat Rasulullah SAW yang mulia ini lebih dekat. Bagaimana kehidupan awal sebelum Beliau masuk Islam hingga saat cahaya Islam dapat merasuk ke sanubarinya dan menjadikannya sebagai salah seorang tokoh penting di sisi Rasulullah SAW. Bahkan Beliau akhirnya menjadi khalifah, pemimpin umat muslim.

Tidak banyak riwayat yang menceritakan perihal masa kecil dari Umar RA. Namun yang lebih banyak dipahami adalah karakteristik dan gaya hidup Beliau semasa sebelum masuk Islam. Beliau dikenal kuat secara fisik dan cerdik akalnya. Namun pada saat itu Beliau adalah orang yang memusuhi ajaran Islam serta umat muslim.

Kekuatan fisiknya serta kecerdikannya menjadikan Umar RA disegani oleh penduduk Makkah. Namun sebelum masuk Islam, Beliau menggunakan kekuatan fisiknya ini untuk menyiksa umat muslim. Bahkan, pada puncaknya Beliau berkeinginan untuk menghancurkan Islam dengan terlebih dahulu membunuh Rasulullah SAW yang mulia.

Suatu ketika, Umar bin Khattab yang belum masuk Islam menawan Nu’aim bin Abdullah, seorang muslim yang lemah. Nu’aim sadar bahwa dirinya akan disiksa oleh Umar bin Khattab, lantas Nu’aim menyampaikan bahwa adiknya Umar RA sendiri ternyata telah memeluk Islam. Hal ini pada saat itu melukai perasaan Umar RA, lantas Beliau mengalihkan perhatiannya kepada adiknya.

Masjid Umar di Yerusalem, sumber Cara Mudah ke Baitullah
Masjid Umar di Yerusalem, sumber Cara Mudah ke Baitullah

Umar terkejut dan pulang ke rumahnya dengan dengan maksud untuk menghukum adiknya. Diriwayatkan bahwa Umar menjumpai saudarinya itu sedang membaca Al Qur’an surat Thoha ayat 1-8. Ia semakin marah akan hal tersebut dan memukul saudarinya. Ketika melihat saudarinya berdarah oleh pukulannya ia menjadi iba dan kemudian meminta agar bacaan tersebut dapat ia lihat.

Pada waktu itu, saudarinya tidak memperbolehkan Umar untuk melihat apa yang dibacanya. Karena Umar masih seseorang yang kafir yang belum paham bersuci, sehingga dalam keadaan bernajis. Lantas, Beliau mencari cara agar bisa melihat apa yang dibaca saudarinya dan ternyata jawabannya adalah harus menjadi seorang muslim terlebih dahulu. Hal inilah yang akhirnya menjadikan Umar dituntun oleh hidayah.

Selang beberapa waktu, setelah proses bertemu dengan Rasulullah SAW secara langsung, Umar bin Khattab kembali keharibaan Islam. Pada saat itu, seisi tempat yang menyaksikan Umar RA masuk Islam bersuka ria seolah menyambut kemenangan yang sudah di depan mata. Sebab Umar RA adalah seseorang yang kuat dan dapat dipercaya untuk menjadi penopang Islam.

Sebaliknya, penduduk Makkah yang masih kafir malah berduka cita saat kabar Umar bin Khattab RA masuk agama Islam. Mereka bahkan mengucilkan Umar RA meskipun biasanya mereka termasuk teman dekat dan orang-orang yang sering menyanjung Beliau. Umar RA dikucilkan dari pergaulan Mekkah dan ia menjadi kurang atau tidak dihormati lagi oleh para petinggi Quraisy yang selama ini diketahui selalu membelanya.

Menjadi Khalifah

Ilustrasi Keberanian, sumber IlMu
Ilustrasi Keberanian, sumber KlikMu

Inilah saat dimana pidato Umar bin Khattab bermula, yaitu saat Beliau dibaiat menjadi khalifah pengganti Abu Bakar RA. Setelah peristiwa hijrah, Nabi Muhammad (selain merupakan seorang Nabi dan Rasul), didaulat untuk memimpin negara dan menerapkan Islam. Hal ini yang terjadi di tahun pertama hijriyah.

Sepeninggal Rasulullah SAW, Abu Bakar RA sebagai seorang Shahabat terbaik dibaiat menjadi pengganti (dalam bahasa arab khalifah), yang menggantikan kedudukan Rasulullah SAW sebagai kepala negara memimpin umat muslim. Setelah terpilih pun, pidato Abu Bakar RA juga menjadi inspirasi. Tidak lama berselang, Abu Bakar RA pun wafat.

Didorong oleh wasiat dari Abu Bakar di akhir hayatnya, umat muslim mendapatkan petunjuk berupa rekomendasi tentang siapa yang layak menggantikan Abu Bakar sebagai khalifah untuk memimpin umat muslim. Dari wasiat inilah akhirnya umat muslim paham dan membaiat Umar bin Khattab menjadi khalifah ke-2 bagi umat muslim.

Berikut isi pidato Umar bin Khattab saat dilantik menjadi khalifah (kepala negara) menggantikan Abu Bakar Ash Shiddiq sebagaimana yang dijelaskan oleh Muhammad Husain Haekal dalam buku Biografi Umar bin Khattab.

Ilustrasi Umar bin Khattab
Ilustrasi Umar bin Khattab, sumber : Detik News

“Segala puji bagi Allah sebagaimana aku memuji Allah atas diriku. Sholawat serta salam atas Nabi Al Amin. Semoga Allah merahmati Abu Bakar As Shiddiq. Ia telah melaksanakan amanah yang diembannya. Selalu membimbing umat. Ia telah meninggalkan umat tanpa ada yang menggunjingnya.

Kita setelahnya, mengemban tugas yang berat. Kita tidak mendapatkan kebaikan dari hasil ijtihad kita saat ini, kecuali telah ada pada masa sebelum kita. Bagaimanakah kemudian kita bergabung dengannya kelak? Kepunyaan Allah-lah yang telah diambil. Dan kepunyaan Allah-lah semua yang telah diberikan.”

“Saudara-saudara! Saya hanya salah seorang dari kalian. Kalau tidak karena segan menolak perintah Khalifah Rasulullah (Abu Bakar Ash Shiddiq) saya pun akan enggan memikul tanggung jawab ini.

“Ya Allah, saya ini sungguh keras, kasar, maka lunakkanlah hatiku! Ya Allah, saya sangat lemah, maka berilah saya kekuatan! Ya Allah, saya ini kikir, jadikanlah saya orang dermawan!”

“Allah telah menguji kalian dengan saya, dan menguji saya dengan kalian. Sepeninggal sahabatku (Abu Bakar Ash Shiddiq), sekarang saya yang berada di tengah-tengah kalian. Tak ada persoalan kalian yang harus saya hadapi lalu diwakilkan kepada orang lain selain saya, dan tak ada yang tak hadir di sini lalu meninggalkan perbuatan terpuji dan amanat. Kalau mereka berbuat baik akan saya balas dengan kebaikan, tetapi kalau melakukan kejahatan terimalah bencana yang akan saya timpakan kepada mereka.”

Setelah pidato inipun, Umar bin Khattab menjadi seorang pemimpin yang baik yang pernah ada memimpin umat muslim. Bahkan, kisah-kisah hidup kepemimpinannya banyak dijadikan teladan dan terus diceritakan untuk dapat menjadi pedoman bagi pemimpin setelahnya. Semoga pidato Umar bin Khattab ini menjadi inspirasi bagi kita semua.

Leave a Reply