Pidato Muhammad Al Fatih; Lugas dan Membara

  • Post published:
  • Post category:Tokoh

Siapa yang tak kenal dengan Muhammad Al Fatih? Seorang panglima perang yang berhasil mewujudkan kabar gembira baginda Nabi SAW, menaklukkan Konstantinopel, sebuah kota adidaya pada zamannya. Tentunya ini semua adalah kehendak Allah Yang Esa. Namun berbagai usaha serta perjuangan Al Fatih muda dapat menjadi sebuah pelajaran berharga, termasuk pidato Muhammad Al Fatih yang menyalakan api semangat para prajuritnya disaat mereka kehilangan arah dan semangat.

Mengenal Muhammad Al Fatih

Muhammad Al Fatih yang memiliki nama asli Mehmed II merupakan penguasa kesultanan Utsmani ketujuh yang berkuasa pada tahun 1444-1446 dan 1451-1481 Masehi. Beliau ialah putra dari Sultan Murad II dan istrinya Turki Hatun binti Abdullah. Mehmed muda diangkat menjadi sultan saat umurnya baru menginjak 22 tahun, menggantikan ayahnya yang saat itu telah wafat.

Semasa kecil Mehmed muda sudah terlihat mempunyai kecerdasan diatas rata-rata anak seusianya. Berbagai ilmu pengetahuan sangat mudah diserapnya, sehingga ia memiliki cakrawala ilmu amat luas, terutama bidang bahasa dan sejarah. Tak heran 6 bahasa telah dikuasai Mehmed, diantaranya bahasa Turki Utsmani, bahasa Arab, Persia, Serbia, Yunani dan bahasa latin.

Pidato Muhammad Al Fatih, sosok pemimpin ideal. Sumber: kalam.sindonews.com
Muhammad Al Fatih, sosok pemimpin ideal. Sumber: kalam.sindonews.com

Ayahnya, Sultan Murad II menyerahkan Al Fatih kecil kepada dua ulama besar pada zamannya, yaitu Syaikh Al-Kurani dan Syaikh Aaq Syamsuddin. Hal ini merupakan bukti bahwa Al Fatih memang sudah dipersiapkan sedari dini untuk menaklukkan Konstantinopel. Dari kedua ulama tersohor ini Al Fatih ditempa untuk menjadi panglima terhebat dengan berbagai ilmu Al-Qur’an, hadits, fiqih, matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan, dan bahasa. 

Alhasil Mehmed menjadi representasi seorang pemimpin yang ideal karena ia ahli bidang manajemen, memahami administrasi negara, menguasai banyak bahasa, pakar kemiliteran dan pandai menyusun strategi perang. Kepribadiannya yang telah terinstall syariat islam secara menyeluruh menjadikan dirinya bijak dalam menyikapi segala hal, suka memberi, rela berkorban dan berani menyuarakan syariat islam ke segala penjuru alam.

Penaklukkan Kota Konstantinopel

Rasulullah Muhammad telah memberi kabar gembira dalam sabdanya yang terkenal,

لَتُفتَحنَّ القُسطنطينيةُ ولنِعمَ الأميرُ أميرُها ولنعم الجيشُ ذلك الجيشُ

“Sesungguhnya kota Konstantinopel akan ditaklukkan (dan jatuh ke tangan umat Islam). Maka pemimpin yang menaklukkannya merupakan pemimpin terbaik dan pasukan yang berada di bawah komandonya ialah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad)

Sekitar delapan abad kemudian hadits baginda Nabi akhirnya terwujud, ditangan seorang pemuda cerdas nan gagah dari Turki Utsmani, ialah Sultan Mehmed II atau biasa dikenal dengan Muhammad Al Fatih.

Pada umur 20 tahun, ayah Al Fatih muda yang juga Sultan Utsmani meninggal dunia. Saat Al Fatih muda menggantikan posisi ayahnya menjadi sultan, Syaikh Aaq Syamsudin mengatakan bahwa kabar gembira Nabi SAW akan dapat terwujud oleh Muhammad Al Fatih, menaklukkan kota adidaya saat itu, Konstantinopel. Syaikh Aaq selalu saja mengatakan kandungan hadits tersebut hingga tumbuh rasa keyakinan dan percaya diri dalam benak Al Fatih muda.

Ilustrasi Penaklukkan Konstantinopel. pidato Muhammad Al Fatih. Sumber: jogja.tribunnews.com
Ilustrasi Penaklukkan Konstantinopel. Sumber: jogja.tribunnews.com

Akhirnya, Al Fatih muda punya azzam kuat ingin menaklukkan Konstantinopel. Ia lalu mulai mempersiapkan pasukan luar biasa dengan berbagai bekal istimewa, baik kemiliteran maupun keislaman. Bahkan dikatakan dalam suatu riwayat, seluruh pasukan Muhammad Al Fatih semenjak balighnya tidak ada yang pernah meninggalkan shalat 5 waktu. Subhanallah.

Strategi Cemerlang Al Fatih Muda

Selain memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan ahli berbahasa, Muhammad Al Fatih juga sangat mahir menyusun strategi yang cemerlang, yang bahkan tidak terpikir oleh pasukannya sendiri apalagi musuh sekali pun. Strategi yang amat cerdas, luar biasa dan sangat tidak masuk akal.

Menginjak detik-detik penaklukkan, 400 kapal perang beserta armada lengkap dengan peralatan tempurnya dipersiapkan dengan sangat matang. Meriam-meriam besar yang dipesan khusus untuk meruntuhkan tembok Konstantinopel menjadi penyempurna senjata pasukan. Namun ternyata sepanjang perairan diberi rantai-rantai besi, sehingga pasukan Al Fatih tidak dapat melewatinya.

Muhammad Al Fatih akhirnya terpikir sebuah ide untuk mengangkat 70 kapal laut menuju bukit terjal dalam waktu satu malam. Ini merupakan ide cemerlang yang bahkan tidak ada satu pun pasukannya terlintas demikian. Akhirnya diangkatlah kapal-kapal hingga dapat masuk ke perairan dan berhadapan langsung dengan benteng Konstantinopel.

Pidato Penutup yang Membara

Detik-detik sebelum penaklukan, pada pukul 01.00 dini hari, di hari Selasa 29 Mei 1453 Masehi, Sultan Al-Fatih memberikan pidato amat membara kepada seluruh pasukannya, yang saat itu kebanyakan dari mereka patah semangat karena sebulan lamanya di medan perang belum muncul tanda-tanda kemenangan. Berikut isi pidato Muhammad Al Fatih kala itu,

Pidato Muhammad Al Fatih yang mampu kobarkan semangat. Sumber: pinterest.com
Pidato Muhammad Al Fatih yang mampu kobarkan semangat. Sumber: pinterest.com

“Apabila penaklukan kota Konstantinopel sukses, maka sabda baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjadi kenyataan, dan salah satu dari mukjizatnya telah terbukti. Maka kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah dijanjikan hadits tersebut, yaitu berupa kemuliaan dan penghargaan. Maka dari itu, sampaikanlah pada para pasukan satu persatu, bahwa kemenangan besar yang akan kita capai ini, akan menambah ketinggian dan kemuliaan Islam. Untuk itu, wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selalu di depan matanya dan jangan sampai ada di antara kalian melanggar syariat yang mulia ini. Janganlah mengusik tempat-tempat peribadatan dan gereja-gereja. Jangan pula mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya yang tidak ikut terjun dalam pertempuran”.

Setelah itu, para pasukan yang dipimpin Muhammad Al Fatih langsung menyerbu dalam 3 lapis barisan, dengan mengerahkan segenap tenaga yang tersisa. Berkat rahmat serta pertolongan Allah, pada pagi harinya tanggal 29 Mei 1453 Masehi, Konstantinopel berhasil ditaklukkan. AllahuAkbar!

Akhir kata, pidato memang dapat menjadikan semangat berkobar laksana api menyala, sebagaimana pidato Muhammad Al Fatih diatas. Maka perlu kiranya kita banyak mendengar berbagai pidato orang-orang shalih seperti pidato Abu Bakar, pidato Umar bin Khattab, pidato Buya Hamka dan ulama lainnya guna mengambil ibrah dan berbagai fadhilah luar biasa. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply