Pidato Abu Bakar As Siddiq Saat Diangkat Menjadi Khalifah

  • Post published:
  • Post category:Tokoh

Pidato adalah salah satu cara untuk menyampaikan aspirasi dalam bentuk seruan langsung. Aktivitas ini dilakukan oleh siapa saja termasuk orang-orang termasyhur dalam sejarah manusia. Karena pidato ini pula, Rasulullah SAW dan para Shahabat dikenal serta dijadikan suri tauladan. Salah satunya adalah Abu Bakar as siddiq.

Kali ini, podium minimalis ingin mengulas informasi yang bermanfaat bahkan dapat dijadikan tauladan dari peristiwa saat Abu Bakar as siddiq diangkat menjadi Khalifah yang menggantikan Rasulullah SAW dari pidato yang disampaikannya. Mari kita mulai dari informasi seputar Abu Bakar RA.

Abu Bakar RA

Di kalangan umat muslim, siapa yang tidak kenal Abu Bakar RA. Beliau adalah Shahabat yang paling dekat dengan Rasulullah SAW. Meskipun sebagai manusia, namun kedekatannya dengan Nabi mencapai batas yang tidak mampu di samai oleh manusia lainnya. Sesuai dengan pendapat para Shahabat lain tentang pribadi Abu Bakar RA.

Ilustrasi Negeri Muslim, sumber
Ilustrasi Negeri Muslim, sumber Republika

Nama asli dari Abu Bakar adalah Abdul Ka’bah sebelum akhirnya diganti oleh Nabi Muhammad menjadi Abdullah. Nama Abdul Ka’bah sendiri tidak cocok bagi seorang muslim karena maknanya. Harusnya naman Abdul yang bermakna hamba selalu dikaitkan dengan Allah SWT atau sifat-sifatnya yang Agung. Sedangkan panggilan Abu Bakar sendiri merupakan nama sehari-harinya.

Pada masa sebelum datangnya Islam, Abu Bakar as siddiq juga telah menjalin kedekatan bersama Nabi Muhammad SAW. Beliau merupakan anak saudagar yang juga melakukan perjalanan dagang sebagaimana masa kecil Nabi Muhammad yang juga kerapkali keluar Makkah untuk tujuan perdagangan. Aktivitas inilah yang menurut sebagai sejarawan yang mempertemukan keduanya.

Setelah kedatangan Islam, kalangan dewasa yang pertama kali menyambut seruan untuk masuk Islam adalah Abu Bakar. Karena Rasulullah SAW memang menyampaikan wahyu yang diterimanya dari Allah SWT terutama kepada orang-orang yang paling dekat dengan Beliau SAW. Abu Bakar RA juga turut serta dalam aktivitas dakwah Islam.

Pada permulaan dakwah Islam yang begitu mencekam karena penyiksaan yang dialami oleh Umat Muslim yang jumlahnya masih sedikit, Abu Bakar mendermakan hartanya untuk membebaskan para budak yang masuk Islam agar tidak lagi disiksa oleh tuannya. Mungkin kita pernah mendengar peristiwa penyiksaan kepada Bilal bin Rabah hingga akhirnya dimerdekakan oleh Abu Bakar.

Setelah Rasulullah SAW wafat, Umat Muslim berpikir keras tentang siapa yang akan menggantikan kepemimpinan Beliau SAW. Umat Muslim bermusyawarah di Saqifah Bani Sa’idah sampai kurang lebih tiga hari dan akhirnya sepakatn membai’at (berjanji setia) kepada Abu Bakar RA sebagai Khalifah (pengganti kepemimpinan Rasulullah SAW) yang pertama. Abu Bakar juga merupakan salah seorang yang Allah SWT janjikan masuk surga.

Diangkat Menjadi Khalifah

Masjid Abu Bakar as siddiq
Masjid Abu Bakar as siddiq, sumber Islam City

Momen besar selain keunggulan sebagai pribadi yang ada pada diri Abu Bakar as siddiq yang pernah diketahui oleh banyak orang adalah peristiwa terpilihnya Abu Bakar RA sebagai Khalifah. Pada masa itu, Khalifah adalah orang yang menggantikan posisi Rasulullah SAW sebagai pemimpin manusia dan penguasa negara yang dijalankan oleh Beliau SAW.

Momen besar ini tentu bukan peristiwa biasa. Bahkan bagi Umat Muslim keberadaan penguasa seperti Abu Bakar RA merupakan sebuah peristiwa yang siapapun ingin merasakannya. Mulanya peristiwa pengangkatan ini adalah pada saat Allah SWT mewafatkan Rasulullah SAW.

Nabi Muhammad SAW meninggal dunia pada 2 Rabiul Awal 11 Hijriyah tanpa meninggalkan wasiat kepada para sahabat untuk meneruskan kepemimpinannya. Namun ada gelagat dari diri Rasulullah SAW yang dianggap dapat menjadi penanda yang shahih tentang pentingnya keberadaan penerus kepemimpinan Beliau di tengah umat muslim. Shahabat memahami tanda ini.

Buktinya, saat Rasulullah SAW telah wafat, jenazah Beliau SAW yang mulia bukan malah segera dimakamkan. Para Shahabat yang mendapat ridha dari Allah SWT (berdasarkan surat At Taubah : 100) malah sibuk memikirkan siapa yang untuk menggantikan posisi kepemimpinan Beliau SAW. Aktivitas ini dilakukan dalam bentuk musyawarah di Saqifah Bani Saidah.

Dalam pertemuan di balai pertemuan Bani Saidah di Kota Madinah, kaum Anshar mencalonkan Saad bin Ubadah, pemuka Kazraj, sebagai pemimpin. Sedangkan, Muhajirin mendesak Abu Bakar sebagai calon mereka karena dipandang paling layak untuk menggantikan kepemimpinan nabi. Di lain pihak, terdapat sekelompok orang yang menghendaki Ali bin Abi Thalib, karena nabi telah merujuk secara terang-terangan sebagai penggantinya, di samping Ali merupakan menantu dan kerabat nabi.

Masing-masing kelompok merasa paling berhak menjadi penerus nabi. Namun, atas upaya tegas dari Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarrah, memaksa Abu Bakar sendiri sebagai pemimpin. Besar kemungkinan tanpa intervensi mereka persatuan umat yang menjadi modal utama bagi hari depan komunitas muslim yang masih muda itu berada dalam tanda tanya besar.

Dengan semangat persaudaraan, terpilihlah Abu Bakar, Ia adalah orang Quraisy yang merupakan pilihan ideal karena sejak pertama menjadi pendamping nabi, ia sahabat yang paling memahami risalah Muhammad, bahkan ia merupakan golongan as-sabiqun al-awwalun yang memperoleh gelar Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Ilustrasi Musyawarah, sumber Oke Zone
Ilustrasi Musyawarah, sumber Oke Zone

Pidato Abu Bakar

Setelah disepakati Abu Bakar as siddiq sebagai pengganti posisi Rasulullah SAW dalam memimpin manusia, maka Abu Bakar mengawali aktivitasnya dengan berpidato. Nah, berikut potongan pidato Beliau RA :

“Wahai manusia! Aku telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antaramu. Maka jikalau aku dapat menunaikan tugasku dengan baik, bantulah (ikutlah) aku, tetapi jika aku berlaku salah, maka luruskanlah! Orang yang kamu anggap kuat, aku pandang lemah sampai aku dapat mengambil hak dari padanya. Sedangkan orang yang kamu lihat lemah, aku pandang kuat sampai aku dapat mengembalikan haknya kepadanya. Maka hendakklah kamu taat kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya, namun bila mana aku tiada mematuhi Allah dan Rasul-Nya, kamu tidak perlu mematuhiku. Berdirilah (untuk) shalat, semoga rahmat Allah meliputi kamu.”

Semoga ulasan ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua. Simak terus berbagai ulasan menarik lainnya seputar pidato dan mimbar minimalis di website podiumminimalis.com. Untuk Anda yang tertarik dengan produk podium minimalis, kunjungi halaman kontak kami.

Leave a Reply