Menyelami Pidato Buya Hamka : “Ulama Sejati Tidak Bisa Dibeli”

  • Post published:
  • Post category:Tokoh

Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan panggilan Buya Hamka adalah ketua Majelis Ulama Indonesia pertama. Beliau juga merupakan salah satu tokoh Masyumi sekaligus seorang ulama Muhammadiyah. Beliau dikenal luas sebagai seorang pemikir, politikus, ulama, pengarang, seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu, serta seorang humanis yang rendah hati lagi santun. Kegigihan dan ketegasan beliau dalam berpegang pada akidah Islam tercermin di antaranya dalam banyak pidato Buya Hamka itu sendiri.

Akidah sendiri merupakan pokok persoalan dari berbagai macam persoalan pokok. Artinya akidah tidak lain adalah persoalan puncak, atau asas segala persoalan. Sebab Islam itu sendiri dibangun atas dasar akidah dan syariah, sedang syariah lahir atau terpancar dari akidah itu sendiri. Inilah yang menjadikan akidah sebagai persoalan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi untuk senantiasa dipegang dan dipertahankan bahkan jika harus dengan nyawa sekalipun.

Mengulas, menggali sampai dengan menyelami segala sesuatu tentang beliau tentu saja tidak akan ada habisnya. Atau setidaknya akan butuh waktu yang cukup lama. Namun satu dari sekian banyak hal yang menarik untuk diulas adalah potongan pidato Buya Hamka pada acara penutupan Musyawarah Nasional ke-1 MUI seluruh Indonesia di Jakarta, pada 27 Juli 1975.

Buya hamka, sosok ulama Nusantara yang hanif. Sumber : Islampos.com
Buya hamka, sosok ulama Nusantara yang hanif. Sumber : Islampos.com

Potongan pidato beliau tersebut lebih kurang berbunyi : “Tidak, bapak-bapak yang tercinta! Ulama sejati waratsatul anbiyaa tidaklah dapat dibeli. Janganlah Tuan salah tafsir. Tidak Saudara! Ulama sejati tidaklah dapat dibeli, sebab sayang sekali, ulama telah lama terjual. Pembelinya ialah Allah.” Point penggaalan pidato Buya Hamka tersebut agaknya menjadi jawaban telak terhadap suara-suara sumbang yang mengatakan bahwa ulama bisa dibeli.

Beliau kemudian mengutip salah satu ayat dalam QS. at Taubah yang berbunyi : “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, jiwa raganya dan harta bendanya, dan akan dibayar dengan surga.” (QS. at Taubah : 111).

Suara Sumbang

Mengapa bisa muncul suara-suara sumbang di tengah-tengah masyarakat tentang diri ulama? Beliau Buya Hamka mengibaratkan posisi ulama di antara rakyat dan penguasa ibarat kue bika yang diapit oleh dua panas pemanggangan baik di bagian bawah maupun di bagian atas. Panas bawah ibarat keluhan rakyat, sedangkan panas di bagian atas ibarat harapan penguasa. Posisi sedemikian rupa mengharuskan adanya keseimbangaan pada diri para ulama dalaam hal ini MUI dalam mengakomodir panas dari kedua sisi.

Jika dirasa ada ketidakseimbangan atau kecondongan hanya pada salah satu kutub maka keduanya sama-sama beresiko. Jika tidak dikatakan oleh para penguasa sebagai pihak yang tidak berpartisipasi dalam pembangunan, maka akan dikatakan oleh rakyat bahwah para ulama telah terbeli. Terbeli oleh dunia berikut segala macam pernak perniknya.

Ulama, Peran dan Urgensi

Sejara harfiyah ulama adalah jamak dari ‘alim atau orang yang berilmu atau golongan orang-orang yang berilmu. Yang kemudian difahami dengan makna lebih spesifik sebagai segolongan orang-orang muslim yang memahami imu-ilmu agama secara menyeluruh, serta merupakan pribadi-pribadi yang oleh ummat Islam dijadikan sebagai teladan baik secara pemahaman maupun pengamalan.

Tidak terbayangkan, betapa gelapnya dunia tanpa lentera paara Ulama. Sumber : infopena.com
Tidak terbayangkan, betapa gelapnya dunia tanpa lentera paara Ulama. Sumber : infopena.com

Tentu saja peran penting dari para ulama adalah sebagai orang-orang yang ada di garda terdepan dalam menjaga agama Islam ini agar tetap berada di tengah-tengah kaum muslimin baik dari sisi pemahaman maupun pengamalan akan Islam. Inilah juga yang menjadikan peran dan keberadaan para ulama menjadi sangat vital lagi tak tergantikan. Mengingat hifdzu an din merupakan point utama di antara point-point penting dalam maqasid syariah.

Ulama Sejati

Mengapa perlu ada sebutan ulama sejati? Apakah itu artinya ada juga ulama tidak sejati? Jawabannya adalah ada. Sebagian ulama yang hanif meyakini setidaknya ada tiga jenis ulama, yaitu ulama yang mengikuti kebenaran, ulama yang mengikuti apa mau ummat serta ulama yang mengikuti apa mau penguasa.

Ulama yang mengikuti kebenaran itulah ulama yang sejati. Merekalah ulama yang senantiasa tegak dan istiqamah pada kebenaran Islam, mengemban dakwah tauhid dan syariah, serta beramar makruf nahi mungkar. Yang demikian senantiasa dilakukan meski resikonya adalah dibenci dan dimusuhi oleh ummat bahkan oleh penguasa.

Sedangkan dua jenis ulama lainnya adalah ulama yang tersandra pada dunia. Menjadikan dunia sebagai standar mereka melakukan berbagai hal, memutuskan berbagai hal, serta memperjuangkaan berbagai hal. Kemauan dari para penguasa maupun ummat adalah harga mati baginya. bahkan jika itu harus berseberangan dengan apa yang dimaui oleh Islam.

Perniagaan Langit

Bagaimana tanggapan Anda jika ada dari sahabat Anda yang memutuskan untuk meminjami salah satu barang berharga miliknya, kita ambil contoh jam tangaan mewah. Tak lama sahabat Anda tersebut mengatakaan kepada Anda bahwa ia juga ingin sekaligus membeli jam tangan tersebut yang hakikatnya adalah miliknya dengan harga yang teramat tinggi. Tentu Anda akan sangat bingung.

Janji langit selalu tampak dekat nyata bagi orang-orang yang yakin. Sumber : Unsplash
Janji langit selalu tampak dekat nyata bagi orang-orang yang yakin. Sumber : Unsplash

Demikian lah yang juga terjadi antara kita dengan Allah? Bukankah Allah lah yang telah meminjami segala apa yang telah dan sedang kita miliki sampai dengan hari ini? Bukankah Allah juga yang telah menawarkan untuk membeli kembali apa yang telah Allah beri dengan syurga sebagai harganya? Bukankah dalam perniagaan semacam ini hanya keuntungan yang kita dapat? Inilah sejatinya apa yang disebut dengan perniagaan langit.

Istiqamah dalam Perjuangan

Dengan perniagaaan langit yang sedemikian menguntungkan, masih adakah hujjah bagi kita juga bagi para ulama untuk berpaling dari perniagaan langit dan lebih memilih perniagaan bumi yang belum tentu menguntungkan? Jikapun menguntungkan tidak akan untung besar. Jikapun untung besar tidak akan memuaskan. Jikapun memuaskan tidak akan lama. Sedangkan perniagaan langit sudahlah pasti menguntungkan, dengan keuntungan yang teramat besar, pasti memuaskan dan digaransi abadi. Jadi, apa yang menjadi alasan untuk kemudian tidak istiqamah dalam perjuangan?

Demikianlah ulasan singkat untuk kita bisa sama-sama menyelami salah satu pidato fenomenal Buya hamka yang sangat monumental dan mengenang tentang tidak terbelinya ulama sejati melainkan oleh Rabb mereka sendiri.

Sebagian orang takut mengambil jalan perjuangan hanya karna terbayang-bayang berbagai resiko yang siap menumbangkan langkah juang. Penjara misalnya. Atau persekusi, permusuhan, tuduhan keji bahkan sampai dengan pembunuhan.

Tapi satu hal yang mereka lupa sehingga perlu untuk selalu mereka catat dan ingat bahwa, jikapun resiko puncak dari berjuang menjaga dan menegakkan Islam adalah kematian, bukankah orang-orang yang tidak berjuangpun akan mati? bahkan bukankah orang-orang yang memusuhi Islam dan pengembannya juga akan mati? Jadi betulkah mati adalah resiko mengemban Islam? Tentu tidak. Yang benar adalah bahwa mati tidak lain hanya sebagai konsekuensi logis dari hidup itu sendiri.

Semoga bermanfaat. Sekian dan terima kasih.

Leave a Reply