Desain Mimbar Nabi dan Kelengkapannya

Mimbar adalah salah satu perlengkapan yang mutlak keberadaannya di masjid atau gereja. Saat ini bentuk mimbar sudah bermacam –macam gaya desain. Mulai dari mimbar klasik sampai mimbar bentuk podium minimalis bisa dengan mudah di temukan di berbagai masjid. Tentu saja mimbar masjid saat ini sangat berbada dengan mimbar nabi di masa lampau.

Sejarah Mimbar Nabi

Di masa lalu di tempat dimana Rasulullah berdiri untuk melakukan khutbah, ditancapkanlah batang pohon kurma di samping tempat beliau berdiri. Cara Ini dilakukan agar beliau bisa bersandar jika merasakan lelah karena khutbah dan pemberian pelajaran pada masa itu memakan waktu lama.

Mimbar Nabi
Mimbar saat ini megah dan indah. Sumber flickr

Seseorang pendatang yang baru menetap di Makkah berkata kepada sahabat Rasulullah SAW yang ada di dekatnya, “Jika aku ketahui bahwa Muhammad (Rasulullah SAW) menyenangiku karena suatu hal yang menyenangkan, pasti akan kubuatkan untuk beliau sebuah mimbar di mana beliau dapat duduk atau berdiri sesuka hati.”

Perkataan pendatang tersebut akhirnya sampai ke telinga Rasulullah SAW. Beliau kemudian memerintahkan untuk memanggil pendatag tersebut dan mneyuruhnya untuk membuat mimbar. Dari situlah, mimbar nabi bermula dan di kemudian hari dikenal mimbar yang sampai sekarang kita kenal.

Pada mulanya ketika Rasulullah memberikan pengajaran, datang orang yang tidak dikenal. Karena itulah untuk mengetahui keberadaan dan kedatagan orang baru di majelis, dibuatlah gundukan yang lebih tinggi sehingga Rasulullah dapat dengan mudah mengetahui kedatangan orang baru..

Desain Mimbar Nabi

Keberadaan mimbar yang ada di masjid dimulai ketika Rasulullah SAW membangun masjid di Madinah, yaitu Masjid Nabawi. Di waktu itulah dibangun pula mimbar. Namun mimbar di masa itu tidak seperti mimbar yang ditemui di banyak masjid saat ini. Mimbar nabi yang ada di masjid Nabawi  kala itu dibuat dengan sangat sederhana.

Pada masa itu mimbar Rasulullah SAW hanya terbuat dari tumpukan batu bata dan kayu dari pelepah kurma. Dengan tinggi mimbar sekitar 125 cm mimbar nabi pada masa itu memiliki anak tangga dengan ketinggian 18-25 cm. Lebar anak tangga 18-25 cm. Lebar dan panjang mimbar di buat dengan ukuran 50 cm atau satu hasta dan memiliki sandaran yang terdiri atas tiga tiang.

Keberadaan Kursi

Jika diamati lebih detail, pada mimbar di masjid akan disertai kursi kecil di belakang tempat berdirinya khatib dalam memberikan ceramah. Hal ini di karenakan dalam penyampaian khurbah pada hari jumat akan ada urutan khutbah dengan khatib mengambil posisi duduk di antara khutbah pertama dan kedua.

Menurut ulama Syafiiyah, duduk di antara dua khutbah merupakan bagian syarat-syarat khutbah Jumat. Oleh karena itu, jika seorang khatib tidak duduk di antara dua khutbah, baik sengaja atau lupa, maka khutbahnya dianggap tidak sah.

Hal ini sebagaimana telah disebutkan oleh Imam Syairazi dalam kitab al-Muhazzab berikut;

 “Sebagian dari syarat dua khutbah Jumat adalah berdiri jika mampu, juga dipisah di antara keduanya dengan duduk. Hal ini berdasarkan riwayat Jabir bin Samurah, dia berkata, ‘Nabi saw berkhutbah dalam keadaan berdiri, kemudian duduk, kemudian berdiri dan membaca ayat-ayat al-Quran dan berzikir kepada Allah. Juga karena khutbah merupakan satu dari dua fardu Jumat, sehingga di dalamnya wajib berdiri dan duduk seperti salat.”

Imam Nawawi juga menegaskan mengenai kewajiban duduk di antara dua khutbah Jumat. Beliau berkata dalam kitab Al Majmu’ ;

 “Adapun duduk di antara dua khutbah Jumat, maka hukumnya wajib menurut kesepakatan para ulama, dan wajib thuma’ninah di dalamnya. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan oleh Imam Haramain dan ulama lainnya.”

Dari ulasan di atas bahwa pada mimbar di masjid memang diharuskan ada kursi di bagian belakang untuk di duduki karena duduk diantara dua sujud adalah wajib.

Penggunaan Tongkat Saat Khutbah

Selain keberadaan kursi, pada beberapa mimbar di masjid akan disediakan tongkat. Memang ada beberapa pendapat ulama yang mengatakan membawa tongkat saat khutbah adalah hal yang disunahkan. Ulama’ Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah mayoritas menganjurkan berkhutbah dengan memegang tongkat.

Hal tersebut disunahkan berdasarkan hadist Nabi Muhammad.

Dari Syu’aib bin Zuraidj at-Tha’ifi ia berkata ”Kami menghadiri shalat jum’at pada suatu tempat bersama Rasulullah SAW. Maka  Beliau berdiri berpegangan pada sebuah tongkat atau busur”. (Sunan Abi Dawud hal. 824).

Ibnu Sa’ad memaparkan dalam Tahabaqat al-Kubra, bahwa Rasulullah memegang tongkat dalam khutbah-khutbahnya. Dari Abdullah menceritakan:

 “Dari Abdullah bin Zubair, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menyampaikan khutbah, sedangkan di tangan beliau memegang tongkat.” (HR al-Baghawi dalam Syarh al-Sunnah [1070], Tammam dalam al-Fawaid [650], dan Ibnu Sa’ad dalam al-Thabaqat al-Kubra).

Imam Syafi’i di dalam kitab Al-Umm beliau mengatakan :

Telah sampai kepada kami (berita) bahwa ketika Rasulullah Saw. berkhuthbah, beliau berpegang pada tongkat. Ada yang mengatakan, beliau berkhutbah dengan memegang tongkat pendek dan anak panah. Semua benda-benda itu dijadikan tempat bertumpu (pegangan). Ar-Rabi’ mengabarkan dari Imam Syafi’i dari Ibrahim, dari Laits dari ‘Atha’, bahwa Rasulullah SAW jika berkhutbah memegang tongkat pendeknya untuk dijadikan pegangan”. (al-Umm, juz I, hal 272).

Mimbar Nabi
penggunaan mimbar juga berfungsi untuk menjangkau audiens saat khutbah. Sumber Unsplash

Ada hikmah yang terkandung dalam perintah disunahkannya memegang tongkat ketika melakukan khutbah adalah untuk lebih fokus saat menyampaikan khutbah sehingga khatib tidak memainkan tangannya saat khutbah. Hal ini dijelaskan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab karangan beliau Ihya ‘Ulumuddin

Apabila muadzin telah selesai (adzan), maka khatib berdiri menghadap jama’ ah dengan wajahnya. Tidak boleh menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan kedua tangannya memegang pedang yang ditegakkan atau tongkat pendek serta (tangan yang satunya memegang) mimbar. Supaya dia tidak mempermainkan kedua tangannya. (Kalau tidak begitu) atau dia menyatukan tangan yang satu dengan yang lain.

Demikianlah ulasan mengenai mimbar nabi di masa lalu dan juga kelengkapan mimbar masjid. Semoga artikel tersebut memberikan pengetahuan yang bermanfaat bagi semuanya. Jangan lewatkan artikel kami lainnya tentang mimbar bersejarah masjid Al Aqsha. Terima kasih.

Leave a Reply